Cerita Tentang Cerpen Jernih

Aku bukan lilin yang dengan mudah meleleh karena api.

Itu adalah kalimat pertama cerpen Jernih, cerpen terakhir yang dibuat 2 tahun lalu. Cerpen karena tugas sekolah dan akhirnya dikasih buku sama Bu Sofi. 😀 Makasih Bu untuk bukunya.

Well, kok bisa itu jadi cerpen terakhir yang ditulis? Hm… Entahlah, setelahnya aku kembali tak bisa menulis cerita. Bisa sih sebenernya, cuma yaa kalau mau nulis cerita itu aku butuh sesuatu yang tepat. Sesuatu itu kayak racikan-racikan menarik yang udah timbul di kepala terus memang hatinya lagi diperuntukkan fokus ke hal itu. Nah, selama 2 tahun ini aku tidak fokus, hm… lebih tepatnya memang tidak memfokuskan diri ke situ.

Jadi, waktu dulu itu buat cerpen Jernih nya masih inget banget. Cuma butuh waktu sekitaran 3 jam, tapi sayangnya ngga dilanjutkan tahapan editing gitu jadi ceritanya masih agak terlalu aneh menurutku. Sedikit pemaksaan dan yaa bahasanya penuh dengan purple prose yang terkesan jadi agak lebay. Tapi, meskipun begitu aku seneng karena dari Jernih aku ngerasa bahwa dunia menulis itu memang luas dan jadi sebuah vitamin yang menyehatkan diri sendiri. Dalam proses awal menulis cerpen itu, sebenarnya ide itu muncul tiba-tiba. Waktu itu, kan siaran di radio nah… kebetulan memang lagi ngebahas soal cerpen terus inget kalo aku ada tugas buat cerpen, rencananya aku bakalan ngumpulin cerpen yang merupakan hasil modifikasi cerpen waktu SMP tapi rasanya aku kurang puas sama cerpen itu dan akhirnya memutuskan kalo habis siaran itu kayaknya aku bakalan nulis cerpen baru dan akan segera dikumpulkan beberapa hari berikutnya yaa sebelum deadline lah yaa. Nah, waktu habis siaran radio itu kan udah di rumah, entah kenapa waktu itu aku kepikirannya soal lilin. Yaa, unik aja gitu kan, lilin itu warnanya putih dan dia itu kalo meleleh kan kelihatan banget cairannya agak bening-bening terus lama-lama turun ke bawah dan jadi keras. Aku ngebandingin lelehan itu dengan tetesan air mata. Nah, waktu itu aku kepikiran soal cerita di dunia air mata. Cerita imajinasi gitu sih, tentang tokohnya itu adalah air mata yang tinggal pada kantung air mata seorang manusia yang sebenarnya belum tahu dengan jelas sebab musabab kenapa dia itu menangis a.k.a meneteskan air mata. Kalo menurut si air matanya itu sendiri yang bernama Jernih, dia juga belum dapat esensi yang sebenarnya tentang kenapa air mata harus menetes dari kantung air mata seorang manusia. Uniknya, pada dunia air mata ini punya aturan-aturan sendiri yang tentunya benar-benar berbeda dengan aturan di dunia manusia. Mereka dilahirkan di sebuah tempat (aku belum punya imajinasi tentang tempat lahirnya itu gimana, cuma yang masih terbayangkan itu adalah kayak kapas, tapi sungai, terus di akhir sungainya itu ada air terjun ?? ) Nah, bingung kan? Sama, aku juga bingung…

Terus, setiap air mata yang baru lahir itu akan langsung punya nama sendiri. Seperti Jernih contohnya, dia dapat nama Jernih. Alasannya karena apa, yaa itulah tugasnya sebagai air mata. Setiap air mata yang lahir harus bisa menemukan atau menjawab pertanyaan Apa alasan nama mereka adalah seperti yang diberikan?. Jika mereka sudah menjawab pertanyaan tersebut maka itu menandakan bahwa mereka akan segera re-inkarnasi dan digantikan oleh air mata berikutnya. Dan begitulah kehidupan-kehidupan air mata lainnya di dunia air mata.

Selain itu, banyak hal-hal unik yang aku munculkan di cerpen itu, dan sebenarnya belum terjawab di sana, jadi aku lebih merasa bahwa cerpen ini bisa dikembangkan jadi cerita yang lebih panjang lagi tapi aku masih belum siap terus-menerus untuk membuat perkembangan cerita itu sendiri selama 2 tahun inil Sayang sekali, padahal menurutku ide ini adalah ide yang cukup luar biasa, dan jika aku mampu mengembangkannya aku benar-benar aka terlarut dalam dunia imajinasiku sendiri dan yaa rasanya pasti menyenangkan bisa memiliki dunia sendiri. 🙂

Hal-hal unik itu diantaranya tentang kehadiran air mata. Ada yang tiba-tiba dan ada yang diminta. Ini juga sebagai sebuah teka-teki sederhana yang sebenarnya dibuat untuk lebih mencari jawaban soal pertanyaan yang harus dijawab itu tadi. Semakin banyak kehadiran tiba-tiba yang diminta itu mengindikasikan bahwa air mata yang diciptakan adalah air mata yang mempunyai makna mendalam dan sering dimiliki oleh manusia. :/

Hm… Terus, ada juga cerita tentang temen nya Jernih seperti Haru, yang ternyata juga sekolah di dunia air mata dan dia punya gelar sendiri. Asli sih, kalo ini pemaksaan banget. Sebenarnya di cerpen itu aku mau buat cerita yang serius tapi diselingi dengan hal-hal konyol biar bisa menggiring cerita yang santai untuk dibaca dan ada unsur lucu tapi lucu yang berkelas gitu. Nah, dari Haru ini aku jadi dapet ide untuk memunculkan aturan lain tentang dunia air mata, yaitu soal sekolah di dunia air mata. Haru lagi nyusun tesis S2 dan ternyata dia diselamatkan oleh Jernih dalam memperoleh gelarnya itu. 😀 😀 😀

Terus ada lagi soal Mutiara Tesa Karang, majikan nya Jernih. Alias manusia yang menjadi pemiliknya Jernih. Sebenarnya hanya singkat diceritakan tentang apa yang sebenarnya terjadi dengan Muteska, dan ada pemaksaan cerita yang ingin segera berakhir di cerpen itu. Yaa, karena waktu itu ada dikasih batasan soal jumlah halaman gitu kan, jadinya aku buru-buru memaksakan ending cerita. Jadi, kesannya cerita itu memang mengundang banyak sekali pertanyaan yang belum terjawab, dan pesan yang disampaikan juga tidak to the point tapi secara tersirat gitu. Jadi, kesannya sangat sulit menemukan maksud ceritanya itu seperti apa.

Hm… ngebahas soal cerpen Jernih rasanya mau melanjutkan tulisan tentang hal-hal yang berkaitan dengan Jernih lagi. Semoga saja nanti bisa diwujudkan ya.. Doakan saja yaa… 🙂

Ini link cerpen nya kalo ada yang mau baca (di blog lama)

Cerpen Jernih

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s